Assalamu’alaikum, Mama..
Kurangkaikan kata-kata ini meski tak
seindah pelangi. Kata cinta yang tak pernah berani bibirku mengucap. Kata rindu
yang bagai semilir angin menyusup melalui sela-sela pintu hati, begitu sejuk.
Kurangkaikan kata-kata ini meski tak
semerbak kembang. Kata cinta yang lebih indah dari segala rupanya. Kata rindu
yang menyeruak dari bilik jantungku, mengalir bersama darah. Membuatku
tersenyum di setiap hembusan napas.Menguatkan sendi-sendi ini untuk tegap
berdiri, begitu kokoh. Hingga hari ini teruntuk menjemput pelangi, untukmu,
untuk Mama.
Betapa aku mencintaimu meski tak sebesar cintamu padaku…
Delapan belas tahun kasihmu
mengalir, menghiasi bagai jajaran kembang disepanjang jalan. Menerangi bagai
mentari di kala siang. Menenenangkan bagai bintang gemilang pada malam redup
cahaya. Kau tentu bukan kembang, bukan mentari, bukan pula bintang-bintang itu,
namun… kau perempuan tangguh yang membawa dan mendidikku di tengah kefanaan
dunia. Kau kucinta, begitu cinta, dalam hati untuk setiap langkah yang
terlewati.
Aku yakin Mama tau, pun aku tak
pernah membuatmu mendengar aku berkata “aku cinta padamu”, kau tentu tau betapa
dalam aku mencintaimu.syair-syair cinta telah sekian kali kuucap, meski dalam
hati. Kala tersimpul sebuah senyum dibibirku, begitu tulus. Hatiku berkata “aku
begitu cinta, sangat cinta”, dalam bahasa hati, tentu. Hatimu pun mengerti, ku
tau sebab kudapati senyum termanis untuk membalas kata cinta hatiku itu.
Betapa aku merindukanmu di setiap hembusan napasku…
Kau hanya tak tak pernah bertanya,
siapakah gerangan yang paling kurindu di dunia ini. Tapi aku tau, tak perlu kau
tanyakan itu, sebab kau pun tau. Perihal siapakah kiranya, tentu dirimu.
Rinduku, begitu dalam saat jauh, padamu
tentu. Tak perlu pula ku ibaratkan bagai palung laut terdalam sebab ia jauh
lebih dalam. Begitu memuncak saat berjumpa, denganmu tentu. Tak perlu pula ku
ibaratkan bagai puncak tertinggi di bumi ini sebab ia jauh lebih tinggi.
Betapa aku ingin memelukmu, seperti kau memelukku diwaktu
kecilku…
Suatu ketika teringat olehku,
lirik-lirik lagu itu, Bunda Piara. Sejenak membuatku terdiam, mengingat tak
pernah aku memelukmu, atau mungkin lupa. Apa pernah Ma? Ah, mungkin saja.
Namun, apa kau tau lagu itu? Mungkin, mungkin saja. Lagu yang indah, begitu
ingin kunyanyiakan,
Waktu ku kecil hidupku amatlah senang
Senang dipangku, dipangku dipeluknya
Serta dicium, dicium dimanjakan
Namanya kesayangan
Namanya kesayangan, Ma. Indah kan
Ma? Tapi, aku tau, lagu itu tak seindah lagu pertama yang kunyanyikan untukmu.
Lagu, oh lagu, aku bahkan tak mengira tangisan pertamaku adalah lagu terindah
yang membuat senyummu merekah, obat penyembuh setelah sesaat yang lalu kau bisa
mengakhiri kisah. Lagi senyummu merekah, pertanda begitu bahagianya.
Dulu, kau dekap, kau peluk, kau
pangku aku. Erat. Hangat. Penuh cinta. Kini tak lagi bisa, sebab kini ku telah
dewasa. Sebab, anak lelaki tak boleh dimanja. Aku pun tau. Segala sebab-sebab
itu.
Betapa aku ingin memelukmu, seperti
kau memelukku diwaktu kecilku. Sungguh,
tapi apalah, kau pun tau anakmu ini pemalu. Peluk aku. Walau bukan dengan
dekapan melainkan harapan, berjuta teruntuk impian. Maka nanti jika Allah
mengijinkan, kan kupeluk dirimu dengan pencapaian, erat sekali. Hangat sekali.
Kasihmu tiada tara, tak terhingga sepanjang masa…
Sepanjang kata-kata ini mengalir,
membentuk untian panjang ungkapan kecintaan. Ungkapan kerinduan, mendalam,
menyusup kedalam relung hati terdalam. Menyeruak di bilik hati dan mengalir
bersama darah ke seluruh pembuluh. Ada satu yang akan kutakan, perihal surat
ini, mungkin biasa. Mungkin akan lebih romantis bila ku panggil engkau dengan
panggilan Bunda, walau hanya dalam surat ini. Tapi tidak Ma, Mama, begitu
panggilan yang kau ajarkan. Kau pasti tak lupa, kali pertama bibirku
memanggilmu dengan sempurna, betapa bahagianya. Sebab akulah yang pertama kali
memanggilmu demikian.
Aku mencintaimu, sangat sangat
mencintaimu.
Salam
cinta dari anakmu
Ananda, Fadli Hafizulhaq
0 komentar:
Posting Komentar